TANJUNG REDEB – Kepala Dinas Sosial Kabupaten Berau, Iswahyudi, menegaskan bahwa pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) dipastikan sesuai dengan data yang ada. Namun jika ada yang merasa namanya tercoret, disarankan untuk melakukan usulan kembali.
“Yang tercoret namanya masih memiliki peluang untuk diusulkan kembali, asalkan melalui mekanisme resmi dan berdasarkan kondisi riil di lapangan,” ujar Kadinkes Berau, Iswahyudi dikonfirmasi Senin (2/2/2026).
Banyak warga yang mempertanyakan alasan dicoretnya nama mereka dari daftar penerima bantuan. Salah satu penyebab utamanya adalah status desil ekonomi yang ditetapkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Warga yang tercatat pada desil tertentu, seperti desil menengah ke atas, otomatis tidak memenuhi syarat menerima bantuan sosial dari pemerintah pusat.
“Kalau masyarakat merasa masih layak tapi tidak dapat, solusinya bukan protes. Mekanismenya adalah mengusulkan penurunan desil melalui kelurahan atau kampung, lalu diverifikasi ulang,” tegasnya.
Ia menjelaskan, proses verifikasi dilakukan secara ketat dengan pendataan lapangan menggunakan puluhan indikator, mulai dari kondisi ekonomi keluarga hingga keadaan fisik rumah yang didokumentasikan bagian luar dan dalam. Hasil verifikasi inilah yang menjadi dasar penentuan layak atau tidaknya seseorang menerima bantuan.
Namun di sisi lain, Iswahyudi mengakui masih banyak persoalan salah sasaran akibat data yang tidak jujur. Tidak sedikit warga yang mengaku miskin saat pendataan, padahal setelah dicek memiliki usaha, kebun sawit, atau bahkan rumah lain yang layak di wilayah perkotaan.
“Kadang rumah yang ditunjukkan hanya gubuk, tapi rumah aslinya bagus di tempat lain. Ini yang sering terjadi dan membuat bantuan tidak tepat sasaran,” bebernya.
Ia menegaskan, kondisi tersebut menuntut peran aktif RT, kelurahan, dan kampung untuk benar-benar melakukan pengecekan lapangan secara objektif. Menurutnya, verifikasi tidak boleh dilakukan asal-asalan atau karena faktor kedekatan personal.
“RT harus berani jujur. Jangan karena kenal atau kasihan, orang yang sebenarnya mampu justru dimasukkan. Akibatnya, warga yang benar-benar miskin malah tersisih,” pungkasnya. (Ta)













