TANJUNG REDEB – Masyarakat di dua kampung di Kecamatan Kelay yakni Panaan dan Mapulu, bisa beraktivitas secara normal. Jembatan yang menjadi akses penghubung antara dua kampung itu sudah bisa dilintasi lagi.
“Jembatan sudah bisa diakses pejalan kaki, roda dua hingga roda empat,” ujar Kepala Kampung Panaan, Aliansyah, ketika dikonfirmasi hal ini beberapa waktu lalu.
Jembatan sepanjang 40 meter dengan lebar 4 meter itu menjadi jalur vital bagi aktivitas warga, terutama anak-anak sekolah yang setiap hari melintas.
Terpisah, Kepala Bidang Preservasi Jalan dan Jembatan DPUPR Berau, Junaidi, menjelaskan, pembangunan jembatan ini dilakukan dengan desain berbeda dari sebelumnya.
Bentang jembatan dibuat lebih panjang dan posisinya dinaikkan sekitar dua meter. Langkah tersebut diambil sebagai antisipasi terhadap potensi banjir susulan yang kerap terjadi di kawasan tersebut.
“Konsekuensinya memang membutuhkan tambahan segmen Bailey, namun ini demi keamanan dan ketahanan jembatan ke depan,” tambahnya.
Ia mengakui bahwa proses pengerjaan sempat terkendala kondisi cuaca. Curah hujan tinggi dan meningkatnya debit sungai menyebabkan pekerjaan penimbunan oprit jembatan mengalami keterlambatan.
Meski demikian, Junaidi menegaskan pihaknya memahami betul pentingnya jembatan Mapulu bagi masyarakat, terutama untuk distribusi logistik, akses pendidikan, dan layanan kesehatan.
“Kami berupaya semaksimal mungkin menyelesaikan pekerjaan ini dengan cepat, karena menjadi jalur distribusi logistik, pendidikan hingga layanan kesehatan,” ungkapnya. (Ard)













