TANJUNG REDEB – Pengembangan salah satu komoditas unggulan Kabupaten Berau adalah Kakao. Namun tantangan lain yang ditemui adalah adanya hama yang dapat merusak tanaman tersebut. Bahkan, serangan hama dapat menurunkan kualitas hingga berdampak pada nilai jual Kakao tersebut.
Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan menangani hama itu. Kolaborasi SIGAP bersama Dinas Perkebunan Berau pun menghadirkan penyuluhan pengendalian hama dan penyakit kakao, sebagai respon atas keresahan petani setempat.
Dalam kegiatan ini, para petani-baik yang sudah memiliki tanaman produktif maupun yang baru mulai menanam, mendapat pemahaman langsung tentang cara menjaga kesehatan tanaman kakao. Salah satunya melalui pengaplikasian bubur bordo, racikan Trusi dan Kapur Gamping untuk mengendalikan jamur.
Bubur bordo (Bordeaux mixture) adalah fungisida tradisional yang efektif untuk mengendalikan penyakit jamur pada tanaman kakao, seperti busuk buah dan jamur upas, yang disebabkan oleh patogen seperti Phytophthora palmivora. Racikan ini terdiri dari terusi (tembaga sulfat) dan kapur gamping (kapur tohor).
Cara pembuatan Bubur Bordo pun bisa dengan perbandingan yang bervariasi. Metode yang umum digunakan adalah perbandingan 1:1 (misalnya, 1 kg terusi dan 1 kg kapur gamping dilarutkan dalam 100 liter air).
Untuk cara aplikasi pada tanaman Kakao adalah pertama pembersihan. Sebelum aplikasi, bersihkan bagian tanaman yang terinfeksi jamur dengan cara disikat atau dikerok, terutama pada bagian batang yang keras.
Kemudian penyemprotan atau penyaputan. Bubur bordo dapat disemprotkan ke seluruh permukaan tanaman, atau disapukan langsung pada bagian tanaman yang terserang penyakit seperti busuk batang atau jamur upas. Penyemprotan dilakukan secara merata, terutama saat kondisi kelembapan tinggi atau saat curah hujan meningkat, yang memicu perkembangan jamur.
Selain penyuluhan pengendalian hama dan penyakit, Dinas Perkebunan Kabupaten Berau juga menyerahkan bantuan Tricoderma sebagai dukungan tambahan bagi petani kakao di Kampung Inaran. (Adv/ard)













