TANJUNG REDEB – Salah satu komoditas yang juga mulai dikembangkan di Teluk Sumbang dan Teluk Sulaiman adalah Pala. Wilayah yang dilengkapi dengan tutupan hutan alam ini, menjadi tempat masyarakat Dayak Basap dan Bugis menanam pohon pala, di samping pohon cengkih, pisang, dan kelapa.
Buah pala dipanen setiap 10 – 15 hari dengan menggunakan batang bambu, dan dikeringkan secara manual dengan cara diletakkan di atas para-para (alas yang terbuat dari kayu dan bambu yang dilapisi plastik UV). Para-para membantu melindungi pala dan bunga pala dari hewan peliharaan petani, debu, dan air hujan.
Dengan cara alami tersebut, petani Teluk Sumbang dan Teluk Sulaiman berhasil memproduksi biji pala dengan aroma yang kuat serta mengandung minyak atsiri sebesar 7,05%.
Sedangkan fulinya mengandung minyak atsiri sebesar 22,50% – jauh di atas minyak atsiri pala yang biasa di Indonesia. Baik pala maupun fuli memiliki kadar aflatoksin <4ppb yang memenuhi standar pasar Eropa dan AS.
Singkat cerita, pala dan fuli dari Teluk Sumbang dan Teluk Sulaiman bersumber dari lingkungan alam yang sehat, dan bisa menjadi tambahan yang sempurna untuk dapurmu, atau di manapun sesuai keinginan. (Adv/Ard)













