Samarinda – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menegaskan perannya sebagai organisasi sosial yang bertugas menjadi penghubung antara petani dan pemerintah. Hal itu disampaikan oleh Ketua DPD HKTI KALTIM H. Rusianto, terkait program pengembangan budidaya singkong yang sedang digalakkan di beberapa kecamatan.
Ia menegaskan bahwa pihaknya bukan berperan sebagai mitra bisnis, melainkan jembatan untuk memperjuangkan kepentingan petani.
Salah satu program yang kini digenjot adalah budidaya singkong yang hasilnya akan diserap oleh pabrik tepung tapioka yang dibangun oleh HKTI.
“Artinya, kita mengajak menanam dan membudidayakan singkong. Hasilnya nanti kita beli. Kita bikin pabrik tepung tapioka,” jelasnya.
Sejumlah wilayah disebut telah siap menggarap penanaman singkong secara massif. Di Kecamatan Marangkayu, total lahan siap tanam mencapai 80–93 hektare. Sementara di Kecamatan Samboja, termasuk wilayah Ambarawang Laut, tersedia sekitar 45 hektare. Adapun di Kecamatan Palaran, khususnya Desa Bantuas, disiapkan sekitar 50 hektare.
“Jadi target sudah lebih dari 100 hektare yang siap ditanam,” ujarnya.
Ia juga memastikan bahwa pengembangan singkong hanyalah titik awal. Ke depan, akan banyak komoditas dan program turunan lain yang dikembangkan.
“Nanti banyak turunannya. Ada peternakan, pakan ternak, sampai pupuk organik,” katanya.
Terkait target dari kerja sama ini, Rusianto menegaskan prinsipnya sederhana yaitu untuk keberhasilan bersama antara petani dan organisasi.
“Ikatan kerjasama ini artinya bagaimana sama-sama bisa berhasil. Dan HKTI juga berupaya agar petani bisa dapat bantuan dari berbagai pihak,” tutupnya.(man)













