Follow kami di google berita

Rotan Teluk Sumbang Mulai Jajaki Pasar Eropa

TANJUNG REDEB – Potensi Sumber Daya Alam (SDA) Kabupaten Berau masih banyak yang baru dikembangkan, salah satunya adalah rotan. Di Kampung Teluk Sumbang, rotan telah berubah menjadi hasil kerajinan bernilai jual tinggi.

Produk rotan kreatif hasil tangan masyarakat di Kampung Teluk Sumbang ini bahkan mulai dijajaki untuk masuk pasar Eropa. Hal ini sejalan dengan ditandatangani kesepakatan kerja sama antara Kelompok Tani Hutan (KTH) Rotan Sejahtera Teluk Sumbang dengan PT Indonex Indo Basket, perusahaan asal Cirebon yang bergerak di bidang ekspor kerajinan rotan, pada 28 Oktober 2025 lalu.

Mubrata Manik, Ketua KTH Rotan Sejahtera Teluk Sumbang menyebutkan, dengan penandatangan kerja sama tersebut, PT Indonex Indo Basket akan membantu memasarkan produk mereka, yaitu berupa vas bunga ke negeri Belanda.

“Rencananya, barang akan langsung dikirim dari Berau ke Belanda. Saat ini kami masih mencari ekspedisi serta mengurus beberapa persyaratan lainnya,” ungkap Mubarata.

Selain mengekspor produk jadi, kesepakatan juga meliputi penyediaan bahan baku rotan oleh KTH Rotan Sejahtera untuk kebutuhan industri dan ekspor, dengan tetap menjunjung tinggi prinsip keberlanjutan, legalitas, dan pemberdayaan masyarakat lokal. Kesepakatan ini berlaku selama dua tahun.

Penandatangan kerja sama ini menjadi capaian bagi Kelompok Tani Rotan Sejahtera yang terbentuk sejak tahun 2024. Saat ini, mereka mengelola lahan seluas 650 hektare (ha) dengan rata-rata produksi mencapai 44 ton per bulan. Hasil rotan biasanya dipasarkan dalam bentuk barang setengah jadi dan produk jadi.

“Kami berharap ke depan bisa memasarkan rotan dalam bentuk produk jadi untuk dapat meningkatkan nilai tambah dan menyerap lapangan kerja,” tambahnya.

Kalimantan Timur merupakan daerah penghasil rotan terbesar kedua di Indonesia setelah Kalimantan Tengah. Namun, potensi besar ini belum sepenuhnya dimanfaatkan. Sebagian besar rotan yang dikirim keluar pulau masih berupa bahan mentah dengan harga rendah. Sementara industri rotan terbesar justru berkembang antara lain di Gresik dan Cirebon.

Di Kabupaten Berau, pemerintahnya sendiri tengah gencar mengembangkan komoditas lestari seperti rotan. Hal ini untuk melindungi kawasan hutan mereka yang mencakup hingga 75 persen luas wilayah Berau, sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.

Kajian selama tiga bulan (Agustus–Oktober 2024) menemukan bahwa selama ini belum ada praktik budi daya rotan yang baik. Dari sisi pemanenan, belum menerapkan prinsip rotan lestari dan belum tersedianya pendataan jumlah pengrajin termasuk jumlah alat penganyam.

Selain itu dari sisi ekonomi, ditemukan juga harga rotan yang sudah menjadi bahan baku siap pakai lebih tinggi, jika dibandingkan dengan Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit. (Adv/Ard)

Bagikan

Subscribe to Our Channel