Tanjung Redeb – Seorang pria yang diduga alumni Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) angkatan 1991 ditemukan dalam kondisi terlantar dan kini dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) AW Syahranie Samarinda. Hingga saat ini, identitas keluarga pria tersebut belum diketahui.
Pria yang diketahui bernama lengkap Minsani (58) sesuai yang tertera di KTP yang beralamat di Jalan DR. Murjani III Gang Bahtera, Kelurahan Karang Ambun, kecamatan Tanjung Redeb, kabupaten Berau. Saat ditemukan oleh warga Minsani dalam kondisi lemah dan memerlukan perawatan medis.
Setelah mendapat pertolongan pertama, pria tersebut kemudian dirujuk ke RSUD AWS Samarinda untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Pihak rumah sakit menyatakan bahwa pasien dalam kondisi stabil, namun belum dapat memberikan keterangan lengkap karena keterbatasan komunikasi. Pihak rumah sakit dan warga berharap keluarga pasien dapat segera menghubungi pihak rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.
Kasus ini menjadi perhatian masyarakat setempat, mengingat pria tersebut merupakan alumni APDN tahun 1991 yang selama ini tidak diketahui keberadaannya. Pihak berwenang juga mengimbau masyarakat yang mengenal atau memiliki informasi terkait pasien agar segera melapor ke rumah sakit atau aparat setempat.
Kabid Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kabupaten Berau, Rusli mengungkapkan mendapat laporan warga bahwa Minsani dalam kondisi sakit.
“Pada awalnya mendapat laporan warga ada warga yang ditemukan kondisi sakit tanpa keluarga, ditemukan warga di sebuah Gudang di Jalan Pulau Panjang, Kelurahan Tanjung Redeb, Kecamatan Tanjung Redeb, Kabupaten Berau dengan kondisi lemas dan diketahui menderita penyakit diabetes.” kata Rusli pada Jum’at (05/09/2025) lalu.
Mendapatkan laporan tersebut, Klien a.n Minsani segara dibawa ke RSUD Abdul Rivai Tanjung Redeb untuk menjalani perawatan selama 1 (satu) minggu. “Setelah dinyatakan boleh pulang dari pihak rumah sakit, pada siang hari Rabu, 25 Juni 2025, kami bawa ke Rumah Singgah Kita Bakula, Dinas Sosial Kabupaten Berau untuk dapat layanan sebagaimana mestinya.” jelas Rusli.
Namun karena kondisi kesehatan kembali memburuk, dan masuk rumah sakit lagi, dan pada tanggal 31 Agustus 2025 dirujuk dari RSUD Abdul Rivai Tanjung Redeb kabupaten Berau menuju RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda menggunakan ambulans rumah sakit untuk mendapatkan layanan kesehatan lebih baik
Lebih jauh, dijelaskan Rusli, Klien “M” tidak memiliki keluarga dan tidak punya tempat tinggal tetap dan sebelumnya hanya tinggal menumpang di gudang di tempatnya bekerja.
Sebelum dirujuk ke RSUD AWS klien dilayani di Rumah Singgah Kita Bakula Dinas Sosial Kabupaten Berau dengan kondisi belum pulih sepenuhnya dari sakitnya dan klien kesulitan dalam bergerak/berjalan, sehingga membutuhkan bantuan orang lain dalam beraktivitas dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun klien berharap dapat sembuh dan dapat bekerja kembali.
Saat klien Dinas Sosial kabupaten Berau ini masih bisa diajak komunikasi, pernah cerita bahwa ayahnya merupakan orang Banjar yang berdiam di hulu Mahakam yaitu di Long Iram, kabupaten Kutai Kutai Barat dan ibunya orang Sunda yang bertemu dan menikah ketika orang tuanya merantau dan bekerja di Medan Sumatera Utara.
“Pak Minsani pernah bilang dirinya dan adiknya lahir di Medan. Kemudian orang tuanya kembali ke Kalimantan Timur yaitu di Kampung Jawa Kota Samarinda.” tambah Rusli.
Minsani menjalani Pendidikan mulai dari sekolah dasar hingga pendidikan tingginya di Kota Samarinda, “Beliau mengaku alumni pendidikan tinggi yaitu di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Samarinda, tahun 1991. Semoga ada kawannya yang mengenalinya,” harap Rusli.
Rusli mengungkapkan status Minsani sudah dalam penanganan Dinas Sosial Provinsi Kaltim. “Sejak tanggal 31 Agustus 2025, sudah kami serahkan ke Dinas Sosial Provinsi. Semoga kawan-kawan di Dinas Sosial Provinsi Kaltim benar-benar menjaga beliau selama dalam perawatan di RSUD AWS,” harap Rusli.
Saat ditemui di Ruang Perawatan Flamboyan I RSUD AWS, Minsani dalam kondisi tidak respon saat ditanya dan didampingi Pekerjaan Sosial Masyarakat (PSM). Dan saat visit dokter, yang ditangani dr. Pambudi menjelaskan kondisi pasien harus cuci darah karena kondisi ginjalnya sudah tidak berfungsi dengan baik. “Kemungkinan hari ini Sabtu (6/9/2025) pasien harus cuci darah,” jelasnya.
Sementara itu Sarna, PSM yang memantau kondisi klien Dinas Sosial selama dirawat di RSUD AWS berharap ada yang mengenali Minsani. “Saya berharap ada pihak keluarga yang mengenalinya. Sehingga bila terjadi sesuatu atas pak Minsani kita tidak kerepotan mencari keluarganya,” harap Sarna.
Minsani diketahui tidak memiliki tempat tinggal tetap. Ia sempat bercerita lahir di Medan dari pasangan ayah asal Long Iram (Kutai Barat) dan ibu asal Sunda, lalu besar di Samarinda.
Pekerja Sosial, Sarna, berharap ada keluarga yang segera datang. “Saya berharap ada pihak keluarga yang mengenalinya,” ucapnya.
Rusli memastikan sejak akhir Agustus, penanganan pasien sudah diambil alih Dinsos Kaltim. (*/irfan)













