Follow kami di google berita

Lumbung Padi Kampung Buyung-Buyung Makin Eksis dengan Bantuan Mesin Dryer

Panen raya padi di Kampung Buyung-Buyung. Dengan adanya bantuan alsintan, hasil pertanian khususnya padi di kampung ini akan semakin berkualitas.

SAMBALIUNG – Sebagai salah satu penghasil padi terbesar di Kabupaten Berau, bahkan menjadi lumbung padi, Kampung Buyung-Buyung tentunya membutuhkan support lebih. Dengan adanya bantuan dari pemerintah, kampung ini dipastikan akan bisa lebih maksimal dalam sektor pertanian.

Diserahkan Bupati Berau, Sri Juniarsih, satu unit mesin dryer (pengering padi) dan bantuan Rice Milling Unit (RMU) 1 fase, maka Kampung Buyung-Buyung siap menghasilkan padi yang berkualitas.

“Sektor pertanian menjadi salah satu fokus utama Pemkab Berau. Kami berkomitmen meningkatkan ekonomi masyarakat melalui optimalisasi sektor pertanian berbasis kerakyatan dan kearifan lokal,” ujarnya.

Semangat petani yang terus menyala meskipun sebelumnya sempat dilanda cuaca ekstrem, menjadi motivasi. Dengan adanya satu unit pengering padi, diharapkan dapat mempermudah petani mengeringkan padi saat musim hujan sekaligus meningkatkan kualitas gabah agar lebih kompetitif di pasaran.

Tak hanya itu, bantuan Rice Milling Unit (RMU) 1 fase bagi Kelompok Tani Sumber Rejeki yang diberikan, juga sejalan dengan program Kementerian Pertanian yang menargetkan optimalisasi lahan di sejumlah kecamatan, termasuk Teluk Bayur, Gunung Tabur, Sambaliung, dan Tabalar.

“Harapan saya, dengan adanya mesin dryer dan RMU, Buyung-Buyung terus berkembang sebagai kampung lumbung padi yang mampu menopang kebutuhan pangan Kabupaten Berau dan daerah sekitarnya,” tutupnya.

Saat ini, ada 20 kelompok tani yang tergabung dalam satu gabungan kelompok tani (Gapoktan) dengan potensi lahan mencapai 1.000 hektar. Namun, lahan yang tergarap maksimal baru sekitar 387 hektar.

Kepala Kampung Buyung-Buyung, Mustafa, menjelaskan bahwa sektor pertanian merupakan penopang utama ekonomi masyarakat. Meski begitu, masih ada sejumlah kendala yang dihadapi petani, belum tersedianya bendungan atau sistem irigasi permanen.

“Selama ini para petani hanya mengandalkan air hujan. Kami berharap ada perhatian lebih dari Pemda dan DPRD agar ketersediaan air bisa lebih terjamin, sehingga produktivitas pertanian semakin meningkat,” jelasnya. (Adv/fan)

Bagikan

Subscribe to Our Channel