Samarinda – Pemerintah pusat dan daerah memperkuat sinergi dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan menggelar Apel Siaga dan Jambore Pengendalian Karhutla di Kalimantan Timur (Kaltim). Acara yang berlangsung selama tiga hari, mulai 6 hingga 8 Agustus 2025, dipusatkan di Kawasan Hutan Diklathut Universitas Mulawarman.
Acara ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan seluruh pihak terhadap karhutla, yang kini dikategorikan sebagai bagian dari krisis planet ganda. Berdasarkan prakiraan BMKG, meskipun musim kemarau tahun ini diklasifikasikan sebagai kemarau basah, terjadi kenaikan suhu di Indonesia. Curah hujan pada Agustus hingga September 2025 diprediksi rendah hingga menengah, termasuk di Kaltim.
Sepanjang 1 Januari hingga 5 Agustus 2025, sebanyak 66 titik panas (hotspot) terdeteksi di Kaltim, dan 63 operasi pemadaman telah dilakukan. Luas area terdampak karhutla hingga Mei 2025 mencapai 331,96 hektar. Kaltim dinilai sebagai wilayah rawan karhutla sekaligus lokasi pembangunan strategis nasional, termasuk Ibu Kota Nusantara (IKN).
Wakil Menteri Kehutanan, Sulaiman Umar, menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi dalam pengendalian karhutla. “Kunci keberhasilan pengendalian karhutla terletak pada sinergitas antara pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, serta masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pencegahan harus menjadi prioritas utama. “Mencegah lebih murah, lebih efektif, dan tetap menjaga kelestarian alam,” tambahnya. Wamenhut juga menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi, kesiapsiagaan personel, dan pelibatan aktif masyarakat, termasuk tokoh adat dan agama.
Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, menyampaikan apresiasinya atas komitmen pemerintah pusat. Ia menyebut Jambore ini sebagai “panggilan jiwa” untuk menjaga bumi. “Kita harus bisa menghindarkan dari bencana ekologis dan bergerak bersama-sama, bekerja yang cepat, terencana, taktis, dan tuntas,” kata Rudy.
Mengusung tema “Bersatu untuk Kalimantan Timur Bebas Asap,” kegiatan ini dirancang sebagai sarana edukatif dan konsolidasi lintas sektor. Jambore ini juga menjadi ajang penguatan kolaborasi multipihak dan peningkatan kapasitas masyarakat. Beberapa agenda yang diisi antara lain pelatihan, simulasi penanggulangan karhutla, aksi penanaman pohon, dan deklarasi Relawan Muda Siaga Karhutla.
“Api bisa membakar hutan dalam sehari, tapi butuh puluhan tahun untuk menumbuhkannya kembali. Maka siapa pun yang mencegah api hari ini, berarti dia adalah penyelamat generasi esok,” tutup Sulaiman Umar. (Nain)













