140 Ton Terasi Hanya Dijual Mentah ke Luar Berau

TANJUNG REDEB — Melimpahnya hasil olahan udang rebon di Kabupaten Berau belum sepenuhnya memberikan nilai tambah maksimal bagi para nelayan lokal.

Meski mampu menghasilkan hingga 140 ton terasi per bulan, komoditas unggulan asal Bumi Batiwakkal ini kerap dijual dalam bentuk setengah jadi dan dikemas ulang menggunakan merek daerah lain.

Kondisi tersebut dipicu oleh pola perdagangan antarpulau yang telah berlangsung lama, khususnya ke Surabaya dan Lombok.

“Pedagang luar daerah tak hanya menampung hasil olahan, tetapi juga memasok bahan baku penunjang seperti garam. Ketergantungan ini membuat nelayan terikat dalam sistem pasokan yang sulit diubah begitu saja,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Budidaya Dinas Perikanan Berau, Budiono beberapa waktu lalu.

Akibat pengiriman dalam bentuk curah atau setengah jadi itulah, identitas asal terasi Berau terkikis saat memasuki pasar nasional. Untuk menyikapi tantangan hilirisasi ini, Pemerintah Kabupaten Berau menyiapkan langkah kolaboratif lintas sektor guna memperkuat regulasi, hak paten, dan identitas merek (branding) produk lokal.

Dari data Dinas Perikanan Berau sendiri, produksi terasi lokal sudah menembus 1.680 ton per tahun (140 ton per bulan) yang berasal dari empat sentra utama, yakni Batu Putih, Pegat Batumbuk, Derawan, dan Biatan.

“Konsumsi di tingkat lokal tidak mampu menyerap seluruh hasil produksi, sehingga ketergantungan pada pasar luar daerah sangat tinggi,” tambahnya.

Kemudian, paasokan garam dari penampung luar daerah membangun hubungan bisnis yang kuat dengan nelayan, namun menekan posisi tawar dalam pembentukan merek mandiri.

“Kami juga melakukan sinergi antara Dinas Perikanan, Diskoperindag, dan DPMPTSP yang difokuskan pada penataan varian produk (kering, basah, cair), penyediaan sarana prasarana sentra Batu Putih, serta penarikan investasi untuk industri pengolahan akhir,” tutupnya. (Ard)

Bagikan

Subscribe to Our Channel