TANJUNG REDEB – Bahasa Inggris menjadi salah satu bahasa internasional yang dipergunakan hampir di seluruh dunia. Hal inilah yang menjadi dasar Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengeluarkan kebijakan jika guru kelas wajib bisa berbahasa inggris.
Kebijakan ini juga dikeluarkan lantaran bahasa Inggris sudah masuk sebagai mata pelajaran (mapel) di Sekolah Dasar (SD). Sehingga, dengan adanya kewajiban berbahasa Inggris bagi para guru, dianggap menjadi salah satu solusi agar pengajaran bahasa asing ini bisa maksimal.
“Karena yang ditekankan adalah komunikasi dengan berbahasa Inggris. Kalau gurunya bisa kan enak juga anak didik berkomunikasi dua arah tanpa harus memikirkan grammar-nya,” ujarnya.
Sebelum mapel bahasa Inggris mulai diberlakukan di 2027 mendatang, pelatihan bagi guru kelas bakal dimulai tahun depan.
Dari data Kemendikdasmen, SD yang memiliki guru bahasa Inggris di seluruh Indonesia hanya 49 ribu. Sedangkan yang tidak punya jumlahnya dua kali lipat atau sebanyak 90 ribu lebih.
Di Kabupaten Berau sendiri, untuk guru pengajar tingkat SD yang khusus bahasa Inggris masih kurang. Bahkan, ada guru yang tidak memiliki disiplin ilmu sesuai kualifikasi, terpaksa harus mengajarkan bahasa Inggris.
Dengan adanya kebijakan inipun mendapat respon positif dari wali murid. Beberapa orangtua mengaku senang jika kebijakan ini berlaku. Selain anak didik bisa mendapatkan ilmu langsung di sekolah, juga mengurangi pengeluaran orangtua.
“Saya punya 2 anak yang masih duduk di bangku SD. Kalau matematika dan bahasa Inggris biasanya saya daftarkan kursus diluar jam sekolah. Dan itu biayanya lumayan. Kalau nanti di sekolah sudah dapat, bisa mengurangi pengeluaran juga,” terang Aida, salah satu wali murid yang ditemui.
Senada, Tika yang juga memiliki anak yang masih duduk di bangku SD, juga menyambut baik kebijakan ini. Dikatakannya, dengan adanya kebijakan itu, orangtua tak perlu pusing memberikan pengajaran kepada anaknya, terutama saat mendapatkan pekerjaan rumah.
“Kadang orangtua juga susah mengajari karena tidak semuanya paham bahasa Inggris. Kebijakan ini sangat bagus,” tutupnya.(ard)













