Kawasan Industri Hijau Mau Dibangun di Kaltara, ‘Harta Karunnya’ Segudang

Gubernur Kaltara saat bertemu dengan Menko Marinves dan PT FFI membahas investasi industri hijau di Kaltara, Jakarta, Sabtu 29 April lalu.

Jakarta – Kalimantan Utara memiliki potensi untuk perekonomian dan investasi. Terutama dalam sektor energi baru terbarukan (EBT). Kawasan industri hijau juga mau dibangun di daerah ini.

“Provinsi yang berbatasan langsung dengan Malaysia ini memiliki potensi kekayaan sumber daya alam, utamanya adalah minyak bumi, gas alam dan batu bara, dan yang pasti energi baru terbarukan (EBT),” kata Gubernur Kalimantan Utara Zainal A. Paliwang dalam keterangannya, Kamis (14/10/2021).

Oleh sebab itu daerah ini memulai pengembangan sumber ekonomi dengan pertimbangan konsep green economy, green technology, dan green product.

Zainal mengungkap rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) Kalimantan Utara 2021-2026 pengembangan EBT menjadi salah satu prioritas, khususnya energi air.

Sumber energi lainnya yang potensinya bisa diperbesar adalah panas bumi (geothermal), sinar matahari (solar cell,) dan energi hayati (biofuel). Selain itu, pemerintah Kaltara juga telah memetakan potensi pembangkit listrik yang memanfaatkan sumber daya air.

“Di antaranya Sungai Mentarang, Sungai Kayan, dan beberapa lainnya,” kata Zainal.

Pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) salah satunya berupa pembangunan PLTA di Sungai Kayan yang bisa menghasilkan tenaga listrik hingga 9 ribu megawatt (MW), serta Sungai Mentarang dengan kapasitas 1.375 MW.

Ia mengungkapkan, total potensi PLTA di Kaltara sebesar 21.955 MW. Potensi ini sejalan dengan pengembangan kebutuhan industri di daerah ini, termasuk industri pengolahan hasil pertanian, dan untuk suplai Kawasan KIPI Tanah Kuning – Mangkupadi serta suplai Ibu Kota Negara (IKN).

Kemudian, ada juga proyek pembangunan Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Tanah Kuning-Mangkupadi yang berkonsep zona ekonomi ramah lingkungan (green industrial park) seluas 10.100 hektare.

Pembangunan industri pariwisata menjadi salah satu pendorong perekonomian di Kalimantan Utara. “Pariwisata dikembangkan dari pengembangan dan penataan desa wisata serta menjaga kelestarian alam melalui Heart of Borneo (HoB) yang mengedepankan kearifan lokal,” tutur Zainal.

Potensi ketiga yang didorong Kaltara adalah pengembangan lumbung pangan atau food estate di Kabupaten Bulungan. Pengembangan lumbung pangan di provinsi ini penting mengingat ibu kota negara akan pindah ke Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

Kaltara juga masuk sebagai daerah penyangga pangan IKN untuk sejumlah komoditas, seperti padi organik, cabai, dan bawang merah. Ini sudah tertuang dalam dokumen arah kebijakan, strategi dan program pembangunan pertanian 2020-2024 Kementerian Pertanian.

Program pembangunan kawasan lumbung pangan terpadu di Kabupaten Bulungan dengan enam titik area seluas 41.143 hektare yang dikembangkan disebut sebagai terbesar kedua di Indonesia setelah Sumatera Selatan yang seluas 113 ribu hektare.

Pembangunan dan pengembangan potensi ekonomi dilakukan dengan terbuka kepada kerja sama PMDN atau PMA. Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara mengacu pada peraturan pemerintah pusat, menciptakan iklim semakin baik untuk berinvestasi langsung serta tetap menjaga lingkungan dan hidup masyarakat. Kompleksitas berusaha dan bisnis seperti dukungan akses pasar juga menjadi perhatian Pemerintah.

Tidak hanya sektor energi baru terbarukan sektor pertambangan dan penggalian juga disebut penopang utama ekonomi Kaltara. Kemudian juga ada sektor pertanian, kehutanan dan perikanan lalu konstruksi, serta perdagangan dan industri pengolahan. Dengan potensi seperti ini, Kalimantan Utara tengah bersolek untuk menarik investor.

Dengan banyak potensi itu, kinerja perekonomian Kalimantan Utara pada triwulan II-2021 didorong oleh akselerasi kinerja seluruh lapangan usaha utama, yakni pertambangan, perdagangan, dan konstruksi.

Dari sisi pengeluaran, peningkatan ekonomi provinsi ini di triwulan II-2021 terutama disebabkan oleh baiknya kinerja ekspor, PMTB, dan konsumsi rumah tangga.

Sumber : Aulia Damayanti – detikFinance

Bagikan