Jejak Langkah Sang Penari Punan Leto di Tanah Segah

SEGAH — Petikan dawai sampe mengalun perlahan, membelah keheningan di tepian Sungai Segah. Suaranya yang gemerisik khas kayu meranti dan dawai baja seolah memanggil ingatan leluhur, memayungi derap langkah para penari yang siap membawakan salah satu warisan paling berharga masyarakat Dayak Kenyah di Kabupaten Berau yaitu Tari Punan Leto.

Secara harfiah dalam bahasa Dayak Kenyah, Punan berarti “merebut” atau “mempertahankan”, sedangkan Leto bermakna “perempuan”. Di balik keindahan gerak dan warna-warni manik pada pakaian adatnya, Tari Punan Leto menyimpan narasi mendalam tentang kehormatan, keberanian, dan pesan moral dalam kehidupan bermasyarakat.

Secara tradisional, Tari Punan Leto ditarikan oleh tiga orang penari, dua pria yang memegang Mandau dan Talawang (perisai), serta seorang penari perempuan yang anggun menggerakkan jemarinya dihiasi bulu burung Enggang.

Tarian ini mengisahkan persaingan dua pria yang memperebutkan hati seorang gadis pujaannya. Dalam tutur adat, perempuan tersebut melambangkan figur yang cerdas, bijaksana, dan penuh kelembutan, sosok yang layak dihormati dan diperjuangkan dengan martabat.

Namun, tarian ini jauh dari sekadar drama percintaan biasa. Babak pertarungan antarpria yang disajikan melalui pementasan ini melambangkan keberanian dan kerja keras untuk melindungi keluarga serta komunitas.

“Punan Leto memberi edukasi kita tentang bagaimana menghargai wanita, dan menyelesaikan perselisihan dengan kejelian serta kehormatan. Gerakan melangkah dan bertarung di panggung adalah metafora bagaimana masyarakat kita bertahan hidup dan menjaga keharmonisan,” ungkap salah satu penari.

Di Kecamatan Segah, Tari Punan Leto bukan pementasan sembarangan. Tarian ini kerap menjadi sajian utama dalam upacara Mecaq Undat (pesta adat usai panen raya) sebagai wujud syukur kepada Sang Pencipta atas kelimpahan hasil bumi—maupun saat pesta pernikahan adat dan penyambutan tamu-tamu kehormatan yang berkunjung ke Berau.

Gerakan penari perempuan yang penuh kelembutan (nganjet) berpadu kontras namun harmonis dengan gerakan lincah, tegas, dan bertenaga dari para penari pria. Dualitas gerak ini memperlihatkan keseimbangan alam dan peran gender dalam tradisi Dayak yakni kelembutan yang meneduhkan dan keberanian yang melindungi.

Di tengah derasnya arus modernisasi yang merambah hingga kawasan hulu pedalaman Berau, keberadaan Tari Punan Leto tetap terjaga berkat regenerasi yang terus hidup di kampung-kampung sepanjang Kecamatan Segah. (Ard)

Bagikan

Subscribe to Our Channel