TANJUNG REDEB – Pengoperasian RSUD Tanjung Redeb di Jalan Sultan Agung mendapatkan kritikan dari berbagai pihak. Kesiapan baik secara administrasi, sarpras maupun SDM, menjadi perbincangan yang semakin kencang di masyarakat.
Tim Ahli dari Gubernur untuk Percepatan Pembangunan Kalimantan Timur sekaligus Konsultan Teknis RSUD Tanjung Redeb, Syahrir Andi Pasinringi, ditemui usai peninjauan kesiapan operasional rumah sakit kedua di Berau itu, pun mengakui jika memang masih banyak kekurangan. Lantas, dengan begini apakah ada keterpaksaan pengoperasian rumah sakit itu?
“Tidak ada rumah sakit baru yang langsung sesuai standar. Pasti itu butuh penyesuaian-penyesuaian, perbaikan-perbaikan. Kan itu juga di antara tiga gedung, baru satu yang tersedia kan, tapi sudah mau dioperasionalkan. Tapi mau apa lagi? Anggaran kita menurun, kalau dibiarkan tidak dioperasionalkan, itu bisa bermasalah,” ujarnya ketika ditemui Senin (27/4/2026) sore.
Dikatakannya, dengan adanya bangunan yang sudah berdiri tetapi tidak dimanfaatkan maka akan menimbulkan kerugian. Tak hanya itu, bahkan nantinya bisa bermasalah dari aspek hukum.
“Karena kalau ada barang milik pemerintah yang sudah selesai tapi belum dioperasionalkan, itu bisa bermasalah. Walaupun masih banyak yang perlu kita perbaiki, ya sambil jalan lah,” imbuhnya.
Dipaparkannya, untuk realisasi RS baru ini sudah melalui perjalanan yang cukup panjang. Dari 2020 dirancang, di dalam perjalanannya itu ternyata ada yang tidak sesuai. Karena memang juga ada perubahan regulasi peraturan dari Menteri Kesehatan terkait standar rumah sakit.
Dan mungkin juga yang merancang itu tidak sempurna keahliannya. Keahliannya ada yang kurang, sehingga tidak semua seperti yang kita harapkan,” katanya.
Syahrir sendiri mengakui sudah beberapa kali melakukan peninjauan dan ini menjadi yang ketiga kalinya. Ada beberapa yang memang menjadi catatan.
“Selain jenis ruangan sarpras yang belum tersedia 100 persen, karena memang satu dari tiga gedung, ada juga memang perlu kita modifikasi. Seperti salah satunya, ruangan instalasi gizi, yang tempat kita masak itu, itu nanti mungkin kita akan pindahkan karena tidak sesuai di situ,” bebernya.
Kedua, rumah sakit memang susah sekali standarnya, dimana setiap instalasi ada standarnya. Mulai dari vynil yang harus dipergunakan warna apa, berapa jaraknya sampai ke plafon. Berapa lux ini lampunya terangnya. Bahkan hingga pintu kamar dan kamar mandi pun harus sesuai standar.
“Itu yang tidak semua orang memahami dengan bagus. Makanya perlu perbaikan-perbaikan,” ucapnya.
Meskipun banyak yang harus diperbaiki, namun diakui Syahrir tidak bisa menunggu semuanya tuntas baru dioperasionalkan. Terlebih, rumah sakit ini juga menjadi salah satu harapan masyarakat Berau.
“Pertanyaannya, dengan semua perdebatan tadi adalah, apakah kita tunggu sempurna? Kalau dari kaca mata saya, mari operasionalkan saja dengan segala kekurangannya. Sembari memperbaiki dan melengkapi apa saja yang masih belum sesuai standar,” pungkasnya. (Ard)













