Follow kami di google berita

Akses Kesehatan di Jalan Poros Berau-Bulungan Tak Tersentuh

TANJUNG REDEB – Akses layanan kesehatan di Kabupaten Berau hingga kini belum merata. Bahkan, di kampung-kampung yang jauh dari pusat kota, kesehatan menjadi hal yang cukup mahal.

Mengapa mahal? Ini lantaran minimnya fasilitas kesehatan (faskes) yang jauh dari kata ideal. Sehingga saat masyarakat ingin mendapatkan pelayanan kesehatan, harus ke pusat kampung terdekat atau pusat Kota Tanjung Redeb terlebih dahulu.

“Kondisi fasilitas dan tenaga medis di sejumlah kampung terpencil masih jauh dari ideal, sehingga berpotensi memperlambat penanganan pasien, terutama saat kondisi darurat,” ujar Anggota Komisi I DPRD Berau, Feri Kombong, beberapa waktu lalu.

Ia menyoroti situasi di kampung-kampung perbatasan yang letaknya cukup jauh dari pusat layanan kesehatan utama. Salah satu yang menjadi perhatian adalah Kampung Maluang yang berada di jalur poros Berau–Bulungan.

Menurutnya, jarak yang jauh tanpa dukungan sarana transportasi medis membuat proses rujukan pasien menjadi sangat sulit.

Karena itu, Feri mendorong pemerintah daerah segera menambah fasilitas penting, termasuk pengadaan ambulans khusus untuk Puskesmas Pembantu (Pustu) di wilayah perbatasan.

“Kehadiran ambulans dinilai krusial agar pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut dapat segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap,” ujarnya.

Selain fasilitas, persoalan kekurangan tenaga medis juga menjadi tantangan besar. Ia menyebut, di beberapa Pustu hanya terdapat satu perawat yang harus melayani masyarakat, sementara jumlah bidan sangat terbatas bahkan harus menangani beberapa Pustu sekaligus.

Dalam pembahasan sebelumnya di DPRD, Feri juga mengusulkan strategi penempatan tenaga medis dengan konsep pasangan suami istri. Menurutnya, jika seorang bidan dan perawat ditempatkan bersama sebagai pasangan, peluang mereka bertahan lama di wilayah terpencil akan lebih besar. (Ard)

Bagikan

Subscribe to Our Channel