TANJUNG REDEB – Hasil laut Kabupaten Berau menjadi salah satu potensi yang diekspor hingga ke mancanegara. Namun, sumbangsih bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) belum terlihat.
Dinas Perikanan Berau yang memiliki kewenangan dalam hal hasil laut pun mengakui jika sampai saat ini belum ada kontribusi ke daerah dari hasil ekspor tersebut.
“Belum ada regulasi atau kerjasama resmi yang mengatur penarikan retribusi dari aktivitas ekspor itu,” terang Sekretaris Dinas Perikanan Berau, Yunda Zuliarsih ditemui Jumat (24/10/2025).
Dijelaskannya, jika untuk masalah ekspor itu dilakukan langsung antara pengusaha dan pihak bandara tanpa keterlibatan dinas. Meskipun sudah ada koordinasi dengan pihak Bandara Kalimarau untuk masalah ekspor ini, namun belum ada mekanisme resmi yang mengatur kontribusi ke daerah.
“Secara data kami memang sudah berkoordinasi. Tapi dari sisi penerimaan, belum ada kontribusi yang masuk ke daerah,” tambahnya.
Yunda mengakui, pihaknya selama ini harus jemput bola untuk mendapatkan data ekspor dari Bandara Kalimarau karena laporan kegiatan tidak disampaikan secara rutin.
Kondisi ini, lanjutnya, membuat daerah kehilangan potensi pendapatan dari sektor perikanan yang sebenarnya cukup besar. Karena itu, dinas kini tengah mencari pola kerja sama yang sesuai regulasi agar kegiatan ekspor bisa ikut menyumbang PAD.
Untuk itu, Yunda mengatakan pihaknya berencana memperbaiki sistem pencatatan dan perizinan usaha penampungan ikan agar lebih terintegrasi. Selain itu, dinas perikanan juga akan menjajaki perjanjian kerjasama dengan pihak Bandara Kalimarau.
Bandara Kalimarau Hanya Fasilitasi Jasa Pengiriman
Aktivitas ekspor yang cukup intens khususnya untuk hasil laut semuanya melalui Bandara Kalimarau. Namun terkait sumbangsih PAD, tidak ada sangkut pautnya dengan pihak bandara.
Kepala UPBU BLU Bandara Kelas I Kalimarau, Patah Atabri ketika dikonfirmasi membenarkan jika ekspor semua dilakukan melalui satu pintu di Bandara Kalimarau. Tetapi semuanya hanya sebatas penyediaan jasa pengiriman menggunakan kargo.
“Untuk kegiatan ekspor ini murni dilakukan oleh pelaku usaha. Kami hanya membantu dari sisi layanan kargo dan fasilitas pengiriman,” katanya.
Hingga 21 Oktober, total volume ekspor hasil laut melalui Bandara Kalimarau tercatat mencapai 58.151,4 kilogram ke empat negara tujuan, yakni Kuala Lumpur, Singapura, Shanghai, dan Thailand.
Kuala Lumpur menjadi tujuan utama dengan total pengiriman 46.191 kilogram. Komoditas yang diekspor antara lain ikan segar, udang, kepiting bakau, dan ikan bawal.
“Selain Malaysia, ekspor juga dilakukan ke Singapura sebanyak 9.463 kilogram, ke Shanghai 92,4 kilogram, dan 2.405 kilogram melalui jalur baru ke Thailand,” tutupnya.(ard)













