Follow kami di google berita

Produk Anyaman Rotan Kampung Pandan Sari Siap Ramaikan Pasar

TANJUNG REDEB – Potensi alam Kabupaten Berau yang juga belum tergarap optimal adalah rotan. Namun peluang ini dilihat dan diambil oleh masyarakat di Kampung Pandan Sari Kecamatan Segah. Kini, kampung itu dikenal sebagai salah satu kampung dengan produk unggulan berupa kerajinan rotan.

Mengapa Rotan? Rotan adalah bahan yang minim limbah, dimana semua bagian tumbuhannya bisa dimanfaatkan, mulai dari umbut hingga batang. Suku Dayak adalah salah satu yang piawai dalam menganyam, dan membuat banyak produk turunan rotan.

Selama ini, warga lokal yang mayoritas suku Dayak hanya menjual rotan secara mentah dengan harga rendah. Kalaupun dijadikan anyaman, perajin membutuhkan waktu sekitar satu bulan dengan 15 tahapan untuk menghasilkan kerajinan seperti anjat (tas tradisional suku Dayak). Panjangnya proses ini, membuat harga anyaman rotan cenderung tinggi.

Untuk mengembangkan potensi rotan, peningkatan kapasitas ke kampung penghasil dan perajin rotan di Berau dilakukan. Tercatat ada delapan kampung (Pandansari, Long Ayan, Punan Malinau, Long La’ai, Long Ayap, Punan Mahkam, Punan Segah, dan Teluk Sumbang) yang mengikuti pelatihan rotan ini.

Pelatihan ini bertujuan untuk memperkuat kelompok usaha dan mengajarkan teknik anyaman rotan. Warga dari kampung-kampung tersebut mayoritas bersuku Dayak. Delapan kampung ini diharapkan menjadi kampung model penggerak optimalisasi rotan.

Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Kaltim telah melihat potensi ini. Sehingga mereka memberikan bantuan mesin pengolah rotan ke Kampung Teluk Sumbang, Kabupaten Berau.

Mesin ini membantu mempersingkat proses menjadi hanya lima tahapan. Kampung ini pun kemudian memanfaatkan mesin dengan optimal. Mereka mulai memproduksi rotan setengah jadi seperti fitrit (tali rotan tipis) dan kulit rotan, rotan poles, dan rotan kering.

Sebelumnya warga hanya menjual rotan mentah. Adanya mesin membantu memberikan nilai tambah dengan kemampuan produksi fitrit (bagian inti rotan) dan kulit rotan dari rotan mentah. Fitrit biasanya dianyam menjadi keranjang buah, yang dihargai hingga Rp35 ribu.

Saat ini, kegiatan menganyam masih dilakukan pada hari-hari tertentu saja karena sebagian besar masyarakat memiliki pekerjaan utama sebagai petani. Akibatnya, jumlah produksi setiap bulan belum stabil.

Tantangan lain adalah keterbatasan bahan baku serta pemanfaatan mesin jahit bantuan dari PT. MBL yang belum bisa digunakan secara optimal karena masih memerlukan pelatihan pengoperasian.

Produk yang dihasilkan saat ini baru memenuhi kebutuhan lokal, namun harapan untuk berkembang tetap besar. Namun, produk turunan dari rotan ini diupayakan tumbuh lebih luas dan menembus pasar nasional hingga ekspor. (Adv/Ard)

Bagikan

Subscribe to Our Channel