Meski Asing di Telinga, Porang akan Jadi Sorotan Distanak untuk Dikembangkan di Berau

Anews, Tanjung Redeb – Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Berau akui potensi perkembangan sektor pertanian porang di Bumi Batiwakkal cukup bagus. Hanya saja, karena dinilai merupakan tumbuhan yang asing di telinga, langkah awal baru dilakukan tahap pengenalan di masyarakat umum khususnya kalangan petani.

Kepala Distanak Berau Mustakim Suharjana menuturkan, dari data yang pihaknya miliki, di Berau sudah ada 2 lokasi perkebunan porang lokal yang sudah berkembang dengan baik. Yakni di kawasan Limunjan dan Tumbit Dayak Kecamatan Sambaliung.

“Kita masih meneliti nilai ekonomisnya, jadi yang kita maksud yaitu kita akan menunggu dari akademisi untuk porang di Berau ini rendemen (nilai penting dalam pembuatan produk)nya berapa?. Karena kalau rendemennya di bawah 15 persen termasuk kualitas rendah,” ujarnya, Senin (23/8/2021).

“Untuk perkembangannya cukup bagus di Berau ini jadi dalam setahun bisa 2-3 kilogram. Cuma kita belum tahu persis seperti apa nanti kalau dihitung rendemennya,” tambahnya.

Terkait dukungan pemerintah daerah kata Mustakim, rencana akan diadakan studi banding petani porang ke Madiun, Jawa Timur melalui anggaran perubahan.

“Dengan harapan petani akan mengerti betul porang seperti apa yang diinginkan di pemasaran global itu. Karena kalau untuk sebuah budidaya saya yakin petani lokal cepat untuk mengadopsi teknologi porang,” kata Mustakim.

“Dan untuk dukungan tahun 2022 kita akan mulai saprodi (sarana yang berhubungan langsung dengan pertanian, berupa benih, bibit, pupuk, dan pembasmi hama) nya, karena ini secara nasional merupakan program untuk peningkatan ekspor,” jelasnya.

Dari kacamata Distanak Berau untuk komoditi porang masih relatif rendah untuk bersaing dengan sektor lain seperti jagung dan padi yang sudah lebih dulu berkembang pesat di Berau.

“Untuk jagung pada umumnya sekarang merupakan yang terbesar di Kaltim dengan 70% disupport dari Berau. Untuk saat ini program untuk jagung di Berau sekitar 15 ribu hektar,” bebernya.

“Jadi untuk porang kita masih pengenalan, tapi biasanya kalau pemasarannya itu terbuka dengan baik petani akan mengikuti. Karena kita orientasinya bukan orientasi produksi lagi tapi orientasi pasar,” jelas Mustakim.

“Kalau produk porang itu laku di pasaran akan kita kembangkan nanti ke depan, apalagi kalau porang ini sasarannya mancanegara. Karena untuk konsumsi lokal mungkin hampir tidak ada, dan tentu saja ke depan disini (Berau) akan dibutuhkan pabrik dan pabrik baru masih ada di Jawa,” pungkasnya.(mik)

Bagikan