Keluarga Korban Covid-19 Keluhkan Pelayanan RSUD Abdul Rivai

ANews, Tanjung Redeb – Lantaran dinilai lamban dalam proses pemakaman, sejumlah keluarga korban covid-19 di Berau protes ke pihak rumah sakit umum daerah di Tanjung Redeb, Kamis (29/7/2021).

Ketegangan antara kedua belah pihak itu terjadi di depan kamar jenazah RSUD Abdul Rivai, emosi pihak keluarga mencuat karena merasa tidak mendapat penjelasan dari rumah sakit terkait dugaan paparan virus corona pada mendiang.

“Yang jelas prosesnya adalah dia masuk ke rumah sakit dengan keluhan sakit perut karena hamil 8 bulan tiba-tiba dinyatakan covid, oke kita terima,” ujar salah satu perwakilan pihak keluarga Yunus.

Dari data di rumah sakit korban bernama Nurjanna (41) warga Segah itu mulai masuk rumah sakit sejak Senin (26/7/2021). Tiga hari menjalani perawatan, korban dinyatakan meninggal dunia pada, Rabu (28/7/2021) pukul 22.30 Wita, sebelum meninggal, pasien tersebut sempat menunjukkan gejala sesak napas dan batuk.

“Tetapi penjelasan dari pihak rumah sakit tidak enak banget, karena saya minta penjelasan tidak ada yang bisa menjelaskan, termasuk kronologi bagaimana dia (Nurjanna) bisa kena covid dan barulah tadi setelah ribut-ribut baru mulai (dijelaskan),” katanya.

“Kedua pelayanan rumah sakit Berau pelayanannya harus prima, karena dalam hal pelayanan kurang jadi itu yang penting,” tegasnya.

“Jadi harus ada hal-hal yang perlu diprioritaskan ada yang tidak,” tandas Yunus.

Dikonfirmasi terkait hal tersebut, Dokter Umum RSUD Abdul Rivai Yushelly Dinda Pratiwi mengaku, tim medis sejatinya sudah menjelasan secara rinci kepada pihak keluarga inti mendiang.

“Semua sudah kami jelaskan secara rinci bagaimana proses perawatan terhadap pasien, dari keluarga pasien sudah kami jelaskan,” katanya.

“Dan untuk masuk ke ruang (isolasi) kami ini tentunya sudah ada informated consent (persetujuan tindakan medis) artinya dari keluarga sendiri sudah setuju untuk dilakukan perawatan di ruang (isolasi) kami,” jelas Dokter Shelly, sapaan akrabnya.

Di ruang isolasi tersebut, dikatakan mendiang umumnya sudah mendapat penanganan yang sesuai prosedur.

“Kalau dibilang itu dicovidkan itu tidak mungkin,” imbuhnya.

“Sampai sejauh ini penyelesaian permasalahan dengan pihak keluarga sudah dilakukan klarifikasi bagaimana proses perawatan, kemudian hasil PCR almarhumah sudah kami lihatkan, perawatan apa yang kami lakukan dan kami juga sudah menjelaskan tentang prosedur terkait aturan-aturan tentang pemulasaran juga sudah dijelaskan kepada pihak keluarga,” jelasnya.

“Mungkin ada miskomunikasi antara yang menerima informasi,” pungkas Dokter Shelly. (mik)

Bagikan