TANJUNG REDEB – Peredaran narkotika di Kabupaten Berau kini memasuki babak baru yang semakin kompleks.
Jika sebelumnya transaksi dilakukan secara langsung dari tangan ke tangan, kini jaringan pengedar mulai beralih ke pola yang lebih modern dan sulit dideteksi menggunakan jasa pengiriman barang melalui transaksi online.
Modus baru ini menjadi perhatian serius Polres Berau karena dinilai membuat rantai distribusi semakin rapi, terputus, dan sulit dilacak hingga ke pemasok utama.
Kasat Resnarkoba Polres Berau, Agus Priyanto, mengungkapkan bahwa mayoritas kasus ganja yang berhasil diungkap belakangan ini berasal dari pengiriman paket online.
“Selama saya menjabat, sudah beberapa kali kami mengungkap kasus seperti ini. Mayoritas ganja masuk lewat kiriman online,” ungkapnya, Rabu (1/7/2026).
Dari hasil penyelidikan, mayoritas pasokan ganja yang masuk ke Berau berasal dari luar Kalimantan, terutama dari kota-kota besar seperti Jakarta hingga wilayah Sumatera.
“Mayoritas dari luar Kaltim, bahkan luar Kalimantan. Banyak berasal dari Jakarta dan Sumatera,” jelasnya.
Namun, tantangan terbesar bukan sekadar menangkap paket berisi narkoba, melainkan menelusuri sumber pengirimannya.
Menurut Agus, para pelaku kini semakin lihai memanfaatkan teknologi digital untuk memutus jejak distribusi. Banyak transaksi dilakukan melalui platform online tidak resmi atau situs bodong dengan identitas pengirim yang sulit diverifikasi.
Bahkan, alamat pengirim yang tercantum kerap palsu.
“Ketika kami telusuri, banyak yang menggunakan situs bodong. Setelah dicek, alamat pengirimnya juga sering tidak sesuai,” tegasnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pola peredaran narkoba kini bergerak semakin modern. Teknologi yang seharusnya mempermudah aktivitas masyarakat justru dimanfaatkan pelaku untuk menyamarkan jejak kejahatan.
Meski demikian, Polres Berau memastikan hingga saat ini Kabupaten Berau masih menjadi pasar peredaran, bukan wilayah produksi narkotika.
“Untuk home industry narkoba seperti sabu atau ineks, alhamdulillah belum kami temukan di Berau,” ujarnya.
Untuk memutus rantai peredaran, polisi menerapkan pola pengawasan yang tidak mudah dibaca para pelaku. Strategi patroli rutin mulai dihindari dan diganti dengan patroli insidental serta razia mendadak di titik-titik rawan.
“Kalau patroli rutin, khawatir terbaca oleh pelaku. Karena itu kami lakukan secara insidental dan mendadak,” pungkasnya.
Modus baru ini menjadi alarm serius bahwa perang melawan narkoba kini tak lagi hanya berlangsung di jalanan, tetapi juga di ruang digital.(Akm)













