TANJUNG REDEB – Jika biasanya Urea hanya dijadikan pupuk tanaman, di salah satu kampung di Kabupaten Berau, justru berbeda. Pupuk Urea justru menjadi salah satu campuran dalam pewarnaan batik.
Adalah Erni Ucunawati, salah satu pembatik dari Kampung Panaan Kecamatan Kelay, yang melihat peluang itu. Di tangannya, batik dengan motif dan warna unik tercipta.
Batik ZKS adalah batik yang dihasilkan dengan teknik yang tidak biasa, yakni memanfaatkan campuran pewarna Remasol dan pupuk urea untuk menghasilkan warna yang lebih tajam dan menarik.
Batik tersebut tidak hanya menawarkan motif khas, tetapi juga menghadirkan proses pembuatan yang memadukan seni tradisional dengan teknik kimia modern. Meski menggunakan pupuk urea dalam prosesnya, produk batik ini disebut tetap aman digunakan.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Berau, Syamsiah Nawir, memastikan bahwa teknik pembuatan batik tersebut sudah melalui proses pengujian dan riset.
“Sudah saya tanyakan juga, alhamdulillah aman untuk kulit. Pembuatnya juga sudah mengikuti pelatihan khusus untuk membuat batik dari pupuk urea, jadi dijamin aman digunakan,” ujarnya.
Menurutnya, inovasi ini menjadi sesuatu yang baru di Berau, bahkan disebut sebagai kampung pertama yang mengembangkan batik dengan bahan pupuk urea. Keunikan tersebut membuat batik dari Kampung Panaan memiliki nilai tersendiri dibanding produk batik lainnya.
Selain unik, batik ini juga dinilai lebih eksklusif karena dibuat secara handmade langsung oleh perajin lokal. Warna yang dihasilkan pun lebih kuat dan menarik.
“Kami sudah mencoba langsung produk batik tersebut dan memastikan aman serta nyaman dipakai. Bahkan, beberapa staf di Dinas Pariwisata juga sudah pernah membeli dan menggunakan batik ini,” imbuhnya.
Batik ZKS dari Kampung Panaan kini mulai dikenal sebagai salah satu karya kreatif lokal yang patut diperhitungkan. Selain memperkaya ragam kerajinan daerah, keberadaan batik ini juga diharapkan mampu mendukung pengembangan ekonomi kreatif masyarakat setempat.
Produk batik karya Erni tersebut dipasarkan mulai dari kisaran harga Rp750 ribu, sekaligus menjadi cara untuk mendukung pelestarian karya autentik dari Kampung Panaan. (Ard)













