Antrean SPBU Bujangga Meluber Ke Bahu Jalan Menimbulkan Kemacetan, Sopir Truk Keluhkan Penyedot BBM Bersubsidi Jenis Solar

ANEWS, Berau – Antrean panjang untuk mendapatkan BBM di SPBU Bujangga masih saja terjadi sampai ke depan Polsek Tanjung Redeb dan sampai ke ruas jalan di depan Sekretariat Gerinda.

Antrean panjang ini selalu disusupi kendaraan jenis Kijang tua atau sejenisnya yang diduga pelaku pengetap BBM bersubsidi yang hampir setiap hari mengetap BBM bersubsidi.

Suasana di poros jalan di depan SPBU Bujangga itu sering terlihat macet dan semrawut, akibat banyaknya kendaraan truk angkutan yang antre sepanjang jalan bahkan sampai mengambil dua jalur sisi jalan poros.

Yang menjadi ironi menurut pengakuan salah seorang sopir truk Bernama Tamba, Selasa, 14/9/2021 mengatakan bahwa mereka sudah ngantri sejak pagi, tetapi lebih sering tidak kebagian BBM karena pas sudah sampai gilirannya, BBMnya sudah habis.

“Gak pernah dapat, kalau udah ngantri gini gak dapat kita, makanya nasib-nasiban, ngantri dari pagi. Rata-rata banyak gak dapat kalau ngantri begini, Kalau gini ya kita cari eceran, karena banyak penyedot. Itu lagu lama,” kata Tamba.

Tamba sangat kecewa dengan banyaknya pengantre yang diduga para pengetap BBM bersubsidi sehingga menyebabkan banyak yang tidak mendapatkan.

“Harapan saya, walaupun ada misalnya pengantre dibatasilah, gito loh, misal 500 ribu per mobil kan, jadi kita dapat giliran. Kalau seperti ini kita gak tau, kongkalikong ini kita gak tau nih, bingung kita udah lama nih pak. Semua Pom Bensin gak ada yang jelas di Berau ini. Ngeluh betul kita semua. Kadang kita mulai subuh sampai malam, pun kadang gak dapat, nasib-nasiban lah,” beber Tamba.

Tamba, hanyalah contoh seorang sopir truk angkutan umum, bagaimana dengan Tamba-Tamba lain yang jumlahnya tidak sedikit, yang juga mengalami hal yang sama. Sungguh sedih mendengar keluhan Tamba, yang menggambarkan bahwa kejadian antre panjang BBM bersubsidi oleh para pengetap, hanya ada di Kabupaten Berau dari 10 kabupaten/kota lainnya di Kalimantan Timur.

Mestinya ini wajib menjadi PR Pemerintah Kabupaten Berau beserta stakeholder terkait lainnya, untuk mengatasinya. Tidakkah kita malu, kalau fenomena kejadian antrean panjang BBM oleh pengetap ini hanya ada di Berau dari tahun ke tahun.

Bukankah salah sasaran kalau BBM bersubsidi itu justru dinikmati oleh segelintir orang untuk mengambil keuntungan pribadi, mestinya pelaku praktik pengetap ini diperiksa dan diberi sanksi karena melanggar aturan perundang-undangan dan tidak sesuai dengan tujuan pemerintah terkait pemberian BBM bersubsidi untuk membantu masyarakat, antara lain, untuk meringankan biaya angkutan barang logistik bagi keperluan masyarakat di lintas provinsi dan kabupaten/kota.

Pertanyaannya sampai kapan ini terus terjadi di Berau, bahkan banyak warga yang sangat pesimis praktik pengetap BBM bersubsidi itu dihapuskan dengan mengatakan sampai kiamat tetap tidak berubah. (dit)

Bagikan