Menatap Wisata Kelas Dunia di Maratua: Kala Sinyal Internet Masih Menjadi Mimpi

MARATUA — Sebagai salah satu destinasi wisata bahari unggulan di Kabupaten Berau, Pulau Maratua kerap menyihir wisatawan domestik hingga mancanegara dengan keindahan bawah lautnya.

Namun, di balik pesona alam yang ditawarkan, Maratua masih menyimpan pekerjaan rumah besar yakni akses komunikasi dan internet yang belum merata.

Masalah blank spot atau wilayah tanpa sinyal masih membayangi aktivitas warga serta wisatawan. Padahal, di era digital saat ini, keberadaan koneksi internet bukan lagi sekadar kebutuhan komunikasi harian, melainkan modal utama untuk promosi pariwisata, transaksi keuangan digital, hingga pelayanan publik di kawasan terdepan.

Sektor pariwisata Maratua yang tengah digenjot untuk bersaing di tingkat internasional, membutuhkan dukungan ekosistem digital yang kuat. Wisatawan kini terbiasa dengan kemudahan pemesanan online, pembayaran non-tunai (QRIS/banking), hingga kebutuhan membagikan konten keindahan Maratua ke media sosial secara real-time.

Ketiadaan sinyal yang stabil tak jarang menjadi keluhan pelaku usaha homestay, pemandu wisata, hingga wisatawan itu sendiri. Keterbatasan ini dinilai menjadi salah satu hambatan dalam memaksimalkan potensi ekonomi kreatif dan promosi wisata secara mandiri oleh warga lokal.

Memahami tantangan geografis kepulauan yang sulit dijangkau kabel serat optik (fiber optic) dasar laut, Pemerintah Kabupaten Berau melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) terus memutar otak.

Salah satu langkah terobosan yang diambil adalah, menghadirkan teknologi satelit berbasis Starlink untuk menembus area terisolasi.

Kepala Bidang Aplikasi Informatika (Aptika) Diskominfo Berau, Rahmatia, menjelaskan bahwa hingga saat ini baru terdapat 30 titik WiFi gratis yang berhasil dibangun di Maratua untuk melayani masyarakat, sekolah, dan perkantoran.

“Kondisi geografis Maratua membuat pembangunan jaringan tidak semudah di wilayah daratan. Pemasangan kabel serat optik harus melalui jalur laut. Alternatifnya, kami membangun jaringan radio independen dengan menara pemancar dari Tanjung Batu, menerobos Pulau Derawan, hingga sampai ke Maratua,” jelas Rahmatia.

Ia menambahkan, intervensi teknologi satelit pada 2025 menjadi salah satu solusi cepat untuk menambah jangkauan titik internet gratis di lokasi-lokasi krusial.

“Pada 2025 kami menambah 10 titik lagi dengan memanfaatkan teknologi Starlink. Namun, kuota penambahan tetap terbatas karena alokasi anggaran penambahan titik harus dibagi secara adil ke seluruh kampung di Kabupaten Berau,” imbuhnya.

Bukan hanya pariwisata, terhambatnya jaringan internet juga berdampak langsung pada sektor pendidikan dan layanan pemerintah di Maratua. Para pelajar dan tenaga pengajar kerap kesulitan mengakses materi pembelajaran digital maupun sistem ujian berbasis komputer. (Ard)

Bagikan

Subscribe to Our Channel