Tinjau Ternak Babi yang Terserang Virus, Ketua Komisi I DPRD Minta Distanak Beri Penyuluhan

ANews, Gunung Tabur – Ketua Komisi I DPRD Berau Peri Kombong ikut meninjau ternak babi milik warga bersama Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) di Paribau, kampung Maluang, kecamatan Gunung Tabur, Senin (24/5/2021).

Ia ikut serta, setelah mendengar berita kalau puluhan ekor babi yang berada di sekitar Paribau terkena virus jenis African Swine Fever (ASF).

“Kaget juga kita karena asal usulnya juga tidak diketahui darimana,” ujarnya.

Kata Peri, perlu ada penanganan lebih lanjut agar penyakit hewan tersebut tidak semakin meluas. Disisi lain, menurut laporan Distanak yang ia peroleh, langkah pencegahan dengan pemberian vaksin dan penyemprotan sudah dilakukan.

“Yang perlu diperhatikan ini kan virus sudah masuk, dan langkah-langkah pencegahan itu sudah disosialisasikan oleh Distanak jadi kita ambil hikmahnya disini,” kata Peri.

“Artinya kedepan upaya untuk pembenahan dari peternak itu sendiri baik dari segi sanitasi kandang sehingga tidak mencemari lingkungan yang ada di sekitar,” tambahnya.

Dari sisi kebijakan, Politisi partai Gerakan Indonesia Raya itu menekankan kepada Distanak agar mengusahakan memberikan bantuan berupa bibit babi kepada peternak yang mengalami kerugian akibat serangan virus tersebut.

“Perlu ada penyuluhan mulai dari cara beternak yang baik seperti apa? Kemudian masalah sanitasi (pembudayaan hidup bersih), juga perlu ada semacam pendidikan kepada peternak itu sendiri,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Puluhan babi di kawasan Paribau, kampung Maluang Gunung Tabur yang dilaporkan mati secara massal sejak, 10 Mei 2021 lalu diungkapkan Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Berau positif terserang virus African Swine Fever (ASF) atau umumnya disebut Demam Babi Afrika.

Dari catatan Distanak, terhitung total ada 78 ekor babi yang mati dari jumlah populasi 680 ekor babi.

Untuk menghentikan penularan, kata Kepala Distanak Berau Mustakm Suharjana perlu diambil langkah strategis stamping out atau mengeliminasi keseluruhan ternak agar penyebaran penyakit bisa diputus.

“Karena ini kebanyakan milik pribadi, perlu ada negosiasi terlebih dulu dengan masyarakat tapi dalam perkembangannya saat minggu lalu kita periksa masih ada beberapa yang hidup,” katanya.

Lanjut Mustakim, ia memberi catatan kalau virus tersebut tidak menular ke manusia.

“Jadi penyakit hewan menular biasa bukan kategori penyakit zoonosis atau penyakit dari hewan yang bisa menular ke manusia,” tambahnya.(mik)

Bagikan