TANJUNG REDEB – Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi, mengapresiasi keberhasilan ekspor 10 ton kakao dari Kabupaten Berau yang berhasil menembus pasar Prancis. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan potensi besar komoditas perkebunan daerah untuk berkembang di pasar internasional.
Ia menilai langkah pemerintah daerah melalui Dinas Perkebunan patut didukung agar ekspor kakao tidak berhenti pada jumlah tersebut, melainkan terus meningkat di masa mendatang.
“Kita tentu mengapresiasi pemerintah daerah, dalam hal ini Dinas Perkebunan. Ke depan kalau bisa bukan hanya 10 ton, tetapi bisa lebih besar lagi karena potensi kita cukup besar,” ujarnya, Senin (9/3/2026).
Sumadi menilai pengembangan komoditas kakao juga penting sebagai bagian dari upaya diversifikasi ekonomi daerah. Hal ini mengingat Kabupaten Berau selama ini masih bergantung pada sektor pertambangan batu bara.
Menurutnya, ke depan daerah harus mulai mempersiapkan sektor-sektor alternatif seperti perkebunan dan perikanan.
“Kita harus mulai memikirkan peralihan dari sektor batu bara ke sektor lain seperti kakao, sawit, perikanan dan komoditas perkebunan lainnya. Potensi ini harus kita optimalkan sejak sekarang,” jelasnya.
Ia juga menilai lahan-lahan bekas tambang yang telah direklamasi dapat dimanfaatkan untuk pengembangan sektor perkebunan, termasuk kakao. Selain memberikan nilai ekonomi, langkah tersebut juga dapat membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat.
“Lahan-lahan yang sudah direklamasi bisa dimanfaatkan menjadi kebun kakao atau komoditas lain. Ini sekaligus bisa menjadi sumber mata pencaharian baru bagi masyarakat,” katanya.
Sumadi juga mengingatkan bahwa produksi batu bara ke depan diperkirakan akan mengalami penurunan. Karena itu, masyarakat diharapkan mulai memanfaatkan lahan yang tersedia untuk kegiatan produktif di sektor pertanian maupun perkebunan.
“Masyarakat juga perlu mulai berinovasi memanfaatkan lahan yang tidak terpakai atau lahan tidur untuk ditanami komoditas seperti kakao, kelapa dan lainnya. Jangan sampai kita kaget ketika sektor tambang sudah tidak lagi menjadi penopang utama ekonomi,” pungkasnya. (Man)













