Follow kami di google berita

Sungai Makin Menyempit Jadi Biang Genangan Sekitar Raja Alam II

TANJUNG REDEB – Sebuah sungai kecil di Jalan Raja Alam II, yang terhubung ke Sungai Segah kembali menjadi perhatian warga. Bukan karena banjir besar, tetapi karena kondisinya yang makin menyempit sehingga berdampak pada aktivitas sehari-hari masyarakat.

Dari penuturan warga sekitar, sungai kecil tersebut sebenarnya tidak pernah menimbulkan banjir saat hujan dengan curah hujan biasa. “Sampai ke sini tidak naik kalau hanya sekadar hujan saja. Tapi kalau campur air sungai pasang, bisa masuk ke pemukiman,” ujar seorang warga, Bahar yang ditemui media ini.

Menurutnya, penyebab genangan lebih sering terjadi adalah akibat air pasang yang menahan aliran sungai, sehingga air meluap ke jalan pemukiman.

Saat ditanya soal pengelolaan, warga mengaku belum pernah melihat adanya upaya resmi dari pihak terkait. “Pengelolaan ada begitu-begitu saja. Tidak ada pengelolaan apa-apa,”. ungkapnya.

Selama ini, pembersihan hanya sebatas pemotongan rumput di sekitar bantaran sungai kecil yang dilakukan oleh warga sendiri. “Paling dibersihkan rumputnya aja. Itu juga masyarakat sini, dari RT ke RT,” tambahnya.

Sungai kecil itu sebenarnya sudah ada sejak lama dan dulunya memiliki lebar yang lebih luas. Namun, seiring perkembangan wilayah, beberapa pembangunan membuat alur sungai berubah. Warga menyebut salah satu titik penyempitan terjadi setelah dibangunnya sebuah SPBU di dekat area tersebut. “Dulu luas. Karena dibangun SPBU itu, jadi ditimbun dan agak menyempit,” jelasnya.

Akibat penyempitan itu, ketika air pasang besar datang, aliran sungai tidak mampu menampung volume air. “Kalau di sebelah sana banjir, kita di sini ikut banjir juga. Meluap ke sini. Tapi tidak sampai masuk rumah, cuma sampai kaki saja,” tambahnya lagi.

Upaya normalisasi bukan hanya demi menghindari luapan saat pasang besar, tetapi juga untuk mengembalikan fungsi sungai kecil itu sebagai sistem aliran alami yang mendukung lingkungan sekitar.

Warga setempat berharap normalisasi dapat menjadi solusi permanen sehingga masalah pasang-surut tidak lagi menyulitkan aktivitas harian mereka. “Air ikut pasang-surut. Kalau sore pasang, naik lagi. Jam dua biasanya baru surut,” pungkasnya.

Kini, masyarakat menunggu langkah nyata pemerintah untuk menyikapi keadaan ini. Sebab, tanpa penanganan serius, kondisi sungai dikhawatirkan akan semakin memburuk dan berdampak lebih besar di masa mendatang. (Ta)

Bagikan

Subscribe to Our Channel