TANJUNG REDEB – Kampung Labanan Makarti memiliki harta karun yakni cokelat, yang sudah menjadi salah satu penyumbang peningkatan perekonomian masyarakat khususnya para kaum hawa. Di tangan para perempuan ini, cokelat kini bukan sekadar wewangian manis, melainkan juga penggerak ekonomi.
Melalui tangan-tangan terampil para ibu rumah tangga, sekitar 50 kilogram biji kakao setiap minggu diolah menjadi 50 batang cokelat, 100 bungkus cookies, dan 80 bungkus keripik pisang setiap harinya. Inilah Kulanta, rumah produksi cokelat yang kini berdiri tegak di bawah bendera BUMDes Sumber Jaya Abadi, dan menjadi simbol kebangkitan ekonomi perempuan di Kampung Labanan Makarti.
Direktur BUMDes Sumber Jaya Abadi, Dea Nurawan Solihin, menjelaskan bahwa Kulanta lahir dari pelatihan desa pada Oktober 2022 lalu, yang saat itu hanya ditujukan untuk kelompok wanita tani tanpa badan hukum. Namun dalam dua tahun, kelompok ini berkembang menjadi unit usaha resmi BUMDes, dengan sistem legalitas, produksi, dan pemasaran yang lebih profesional.
Dengan memproduksi lebih dari 18.000 batang cokelat dan 36.000 cookies per tahun, Kulanta tidak hanya menambah nilai pada komoditas kakao lokal, tetapi juga menghadirkan sumber penghasilan baru bagi ibu-ibu kampung. Total produksi tahunan ini menyumbang omzet yang kini mendekati Rp150 juta per tahun, sebuah angka yang jauh dari titik awal kelompok ini dibentuk.
Untuk menjaga pasokan, Kulanta menyerap biji kakao dari petani lokal di sekitar Kampung Labanan Makarti dan kampung tetangga lainnya. Jika pasokan dari petani tidak mencukupi, mereka bermitra dengan penampung kakao di Beraukokoa.
“Semua anggota Kulanta adalah perempuan, dan hari ini mereka bukan lagi pendamping, melainkan produsen utama. Ini bukti bahwa perempuan desa punya potensi besar untuk menopang ekonomi lokal,” kata Dea.
Diversifikasi produk seperti cocoa powder, kue kering, dan minuman cokelat adalah langkah cerdas untuk menyesuaikan diri dengan pasar.
“Industri ini tidak bisa berdiri sendiri. Diperlukan sinergi dari pemerintah daerah, BI, hingga CSR perusahaan besar agar produk seperti Kulanta bisa benar-benar naik kelas dan bersaing di pasar nasional,” tambahnya.
Kulanta tak hanya menawarkan rasa manis dalam setiap batang cokelatnya, tapi juga manisnya kemandirian ekonomi. Ia adalah wajah baru dari industri berbasis rakyat yang dimulai dari nol, dijalankan oleh ibu-ibu desa, dan kini menjadi contoh nyata transformasi ekonomi lokal. Di setiap gigitannya, tersimpan rasa cinta, ketekunan, dan keberanian untuk berubah. (Adv/Ard)













