H. Abidinsyah Minta Pemerintah dan Perusahaan Ikut Lestarikan dan Pelihara Situs Sejarah Kesultanan Yang Ada di Berau

ANEWS, Berau – Keberadaan cagar budaya dan situs sejarah peninggalan kesultanan yang ada di daerah, merupakan salah satu pesona keunikan daerah dan menjadi icon suatu daerah, dan juga merupakan sebagai salah satu potensi pariwisata yang bisa mendatangkan wisatawan dari berbagai penjuru pelosok wilayah di dalam negeri (domestik) maupun mancanegara, yang berpeluang memberikan manfaat bagi peningkatan pendapatan ekonomi di daerah, regional maupun nasional.

Pemeliharaan dan perawatan aset budaya, seperti keberadaan cagar budaya dan situs peninggalan sejarah kesultanan yang ada di daerah menjadi penting untuk dibantu/disupport oleh pemerintah daerah, perusahaan dan masyarakat yang ada di Kabupaten Berau.

Ada dua aset situs peninggalan kesultanan di Kabupaten Berau, yaitu Keraton Kesultanan Gunung Tabur, dan Keraton Kesultanan Sambaliung.

Aji Bchroel Hadi, Sultan Gunung Tabur, Senin, 31/5/2021  menyampaikan bahwa tidak ada bantuan dana pemeliharaan dan perawatan yang konsisten dan rutin dari pemerintah maupun perusahaan yang ada di Kabupaten Berau kepada situs Keraton Kesultanan Gunung Tabur dan Masjid Kesultanan, yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Raya Imanuddin, Gunung Tabur,  sebagai saksi bisu sejarah keberadaan kesultanan Gunung Tabur, yang lokasinya tepat berada di kompleks keraton, (di belakang keraton) itu, kondisinya sudah sangat memprihatinkan.

Masjid Raya Imanuddin atau yang akrab juga disebut Masjid Besar oleh masyarakat Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur adalah sebuah Masjid tua yang diperkirakan berumur lebih dari 200 tahun. Ini berdasarkan keterangan yang diberikan saat masih sehat, almarhumah Putri Nural, salah seorang ahli waris Sultan Muhammad Khalifatullah Jalaluddin (1921-1950) yang merupakan sultan terakhir Kesultanan Gunung Tabur

Menurut Putri Nural, masjid ini dibangun bersamaan dengan dibangunnya istana kesultanan pada zaman pemerintahan Sultan Aji Pangeran Raja Muda Si Barakkat pada abad ke-18. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika masyarakat Kalimantan Timur, khususnya kaum muslim Tanjung Redep, lebih mengenalnya sebagai Masjid Besar Kesultanan Gunung Tabur. (sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbkaltim).

“Kita perlu bantuan uluran tangan dari pemerintah dan para perusahaan untuk melestarikan, memelihara dan merawat Keraton Gunung Tabur dan masjid kesultanan yang sudah lapuk dimakan usia,” kata Aji Bahcroel.

H.Abidinsyah, tokoh masyarakat Berau dan pengusaha Kalimantan Timur

H. Abidinsyah, seorang tokoh masyarakat Berau dan pengusaha Kalimantan Timur yang mendengar kondisi yang dialami oleh kerabat Keraton Gunung Tabur, menyampaikan bahwa memang sudah semestinya pemerintah dan pengusaha yang ada di Kabupaten Berau turut serta memikirkan upaya melestarikan, menjaga, merawat dan memelihara situs-situs budaya dan peninggalan sejarah Kabupaten Berau, seperti keberadaan Keraton Gunung Tabur dan salah satu Masjid tertua yang berada di kompleks Keraton Gunung Tabur itu sebagai bagian dari icon daerah Berau yang harus dibantu dan di-support.

Menurut Abidinsyah, nilai sejarah yang melekat pada keraton maupun masjid tersebut sungguh tidak ternilai, sudah sepatutnya pemerintah daerah dan entitas perusahaan di Kabupaten Berau memberikan support bantuan agar keberadaan situs sejarah dan budaya Kesultanan Gunung Tabur dan Masjid Kesultanan, Masjid Raya Imanuddin Gunung Tabur itu dapat terus terjaga dan terawat, tidak lapuk dimakan waktu, karena dirawat dan dipelihara.

Pemerintah sudah seharusnya menganggarkan dana setiap tahun bagi upaya menyelamatkan, merawat dan melestarikan semua situs-situs sejarah dan situs budaya yang bernilai tinggi, termasuk Keraton Gunung Tabur dan Keraton Sambaliung sehingga generasi anak cucu kita masih dapat melihat secara fisik adanya situs bekas Kesultanan yang pernah berjaya di zamannya dan menjadi bahan kajian dan pengetahuan bagi mereka para generasi muda di masa yang akan datang.

Karena jika tidak diupayakan untuk dilestarikan, lanjut Abidinsyah, bukan mustahil, asal-usul sejarah, informasi, silsilah kerabat kesultanan dan keberadaan kesultanan yang ada di Kabupaten Berau ini, akan lenyap dan hilang tanpa bekas pada suatu saat nanti. Sungguh ironi jika hal itu terjadi.

Bak kata pepatah, bangsa yang besar, bangsa yang selalu mengingat sejarahnya, demikian juga daerah yang besar adalah daerah yang selalu ingat sejarahnya.

Kita bisa lihat bagaimana negara-negara di dunia menjaga dan melestarikan situs sejarah dan budayanya, seperti Inggris, Belgia, Malaysia, Denmark, Belanda dan beberapa negara bekas kerajaan lainnya di eropa, yang kesemuanya dibantu dan di-support oleh pemerintahnya masing-masing. (jul)

Bagikan