Banjir Dulu, Banjir Sekarang, Apa Bedanya?

(Catatan Pinggir Datu Kesuma)

Dalam bahasa Berau, banjir disebut dengan istilah Air Suru atau Air Bassar. Waktu itu (sekitar tahun 1970), setiap air suru, baik yang datang dari hulu Sungai Segah maupun Sungai Kelay, biasanya membawa hanyut serpihan-serpihan kayu dari hutan yang kami sebut Kampar. Kayu-kayu Kampar ini kami ambil dengan perahu kecil, selanjutnya dikeringkan sebagai bahan kayu bakar di dapur.

Selain Kampar, ada juga semacam buah kayu hutan, bentuknya sedikit pipih bundar berwarna hitam, kami sebut Kullai. Kullai ini jadi mainan tradisional, karena waktu itu belum ada kelereng.

Dulu, saat tiba air bassar ini, kami anak-anak justru jadi gembira, jalan kampung yang tergenang air jadi arena bermain, air yang tergenang di jalan-jalan kampung ini dinamakan Callap.

Di air Callap ini, anak-anak kampung yang tinggal di Gunung Tabur maupun Sambaliung, termasuk anak-anak kampung yang bermukim di bantaran sungai lainnya, memanfaatkan air sungai yang menggenangi jalan ini sebagai tempat bermain selancar-selancaran (menggunakan sebilah papan kecil) dan bentuk permainan air lainnya.

Saat itu, ketika air bassar tiba, kami anak-anak jadi gembira, orang tua juga tidak terlalu mengkhawatirkan, karena airnya tidak dalam. Singkatnya, bertapa ceria dunia kami anak-anak waktu itu.

Banjir atau air surut sudah menjadi fenomena alam yang terjadi setiap tahun di Berau. Hal itu, merupakan bagian dari proses alam yang menjaga keseimbangan. Pada beberapa daerah seperti di Kampung Tumbit, banjir membawa kesuburan tanah.

Karena banjir ini merupakan peristiwa alam yang terjadi setiap tahun, maka warga pedalaman dan warga Berau yang tinggal di sepanjang sungai, kalau membangun rumahnya, biasanya dengan konstruksi bertiang. Ini untuk mengantisipasi datangnya air suru/air bassar alias banjir, sehingga rumah mereka tidak tergenang air.

Banjir Cup

Entah siapa yang pertama kali mempopulerkan istilah Banjir Cup ini, yang kalau diterjemahkan artinya Piala Banjir. Filosofinya mungkin sebagai ungkapan atau tanda rasa suka cita, karena ada kegiatan usaha masyarakat waktu itu, ikut bekerja mengambil kayu dengan pengusaha atau istilahnya Animar.

Dengan memanfaatkan aliran sungai yang lagi banjir ini, para pelaku usaha kayu zaman itu, membawa kayu-kayu log yang telah dirakit ke muara. Ada yang ditarik dengan kapal-kapal kayu, tugboat bahkan menggunakan ketinting.

Pada waktu itu (Era Banjir Cup ini sekitar tahun 1970-an), ekonomi masyarakat memang meningkat. Bermunculan orang-orang kaya baru lokal karena ketiban rezeki Banjir Cup. Walaupun namanya banjir, skala dampak kerusakan lingkungan masih terukur dan belum ada dampak limbah, sebab areal hutan yang diambil kayunya tidak seluas seperti saat ini.

Begitu juga sekitar tahun 2000, ketika keluar kebijakan pemerintah daerah untuk memberikan ijin IPK 100 hektar kepada masyarakat, kerusakan hutan masih dapat ditolerir, dan tidak sedikit memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat lokal melalui kelompok-kelompok tani.

Banjir Saat Ini

Bagaimana dengan banjir atau air suru/air bassar yang terjadi sekarang ini ?

Kalau dulu air surut menjadi sahabat para warga yang tinggal di bantaran Sungai Segah dan Kelay, sekarang banjir telah menjadi momok dan sumber masalah bagi warga yang dulunya tinggal di daerah pedalaman maupun dihilirnya.

Ketika terjadi deforestasi (penggundulan) hutan, maka terjadilah alih fungsi hutan, berganti dengan hamparan ribuan hektar perkebunan dan ribuan hektar areal pertambangan, hutan kita menjadi sekarat.

Saat datang musim hujan, hutan yang tadinya berfungsi sebagai penyangga dan penyerap air hujan, sudah kehilangan kendalinya, terjadi erosi, sungai kita jadi dangkal dan tercemar, akibatnya air meluap kemana-mana.

Tak dapat dipungkiri, untuk jangka pendek, keberadaan perusahaan pertambangan dan perkebunan banyak memberikan kontribusi di sektor perekonomian, menyerap tenaga kerja dan penerimaan anggaran daerah dari sektor bagi hasil, baik melalui Dana Alokasi Umum maupun Alokasi Khusus. Dari sumber inilah berbagai pembangunan infrastruktur di Berau dibiayai.

Solusi kedepan, tentu kita tidak bisa lagi menggantung diri kepada hasil yang diperoleh dari ekploitasi Sumber Daya Alam (SDA) yang masa produksinya terbatas, sementara dampak lingkungan yang ditimbulkan semakin meluas.

Harapan itu tentu masih ada, menjaga dan memelihara potensi SDA yang masih bisa diselamatkan, mengembangkan sektor UMKM berkolaborasi dengan perusahaan-perusahaan dan para stakeholder lainnya, memberikan prioritas pada pengembangan sektor/ industri pariwisata yang berwawasan lingkungan yang menjadi keunggulan komparatif maupun kompetitif Kabupaten Berau, sebagai sumber pendapatan asli daerah.

Selain itu, khusus kampung-kampung yang selama ini menjadi langganan banjir yang berada di sekitar perusahaan, mestinya jauh hari sudah ada antisipasi bagaimana caranya mengatasi fenomena ini. Misalnya, untuk setiap rumah yang terkena banjir yang mengakibatkan tidak bisa beraktivitas, perlu diprogramkan bantuan alat transportasi seperti ketinting dan lainnya yang sesuai kebutuhan

Kolaborasi antara pihak pemerintah setempat dengan pihak perusahaan perlu dibangun melalui beragam program sebelum dan pasca banjir. Bukankah ada dana CSR, ADK dan APBD, tinggal bagaimana mendayagunakannya di lapangan, yang sudah barang tentu sesuai dengan ketentuan.

Bagikan